Apa yang terjadi
Deloitte melakukan survei terhadap 200 eksekutif ritel dan barang konsumsi kemasan tentang adopsi dan eksekusi AI. Laporan mengidentifikasi 'say-do gap' yang jelas: 75% menyebut AI sebagai prioritas strategis teratas, tetapi hanya 16,5% yang dapat mengukur pengembalian. Keyakinan kepemimpinan melampaui kemampuan organisasi—adopsi AI tidak pernah melebihi 36% di luar departemen IT. Temuan kritis: 54% kepemilikan strategi AI berada di tangan pemimpin teknologi, bukan pemilik P&L yang bertanggung jawab atas hasil; investasi tetap baru (~50% berinvestasi <0,5% dari pendapatan meskipun AI disebut prioritas); kedua sektor sedang melakukan uji coba secara luas tetapi menskalakan hampir tidak ada (penyebaran di seluruh perusahaan 7–10%). Sektor ritel lebih maju dalam realisasi nilai, didorong terutama oleh pengurangan biaya dan produktivitas, sementara CPG tetap operasional. Sebuah paradoks muncul dalam commerce agentic: 40% dari CPG dan 29% dari retailer tidak memiliki strategi yang ditentukan, namun 50–60% sudah melakukan uji coba kemampuan.
Mengapa penting
Laporan ini memberikan bukti kuantitatif bahwa adopsi AI di dua industri terbesar di dunia dicirikan oleh misalignment antara niat strategis dan kemampuan operasional—pola yang meluas ke tata kelola, investasi, dan penyebaran. Bagi dewan dan eksekutif, data ini mengklarifikasi di mana risiko kompetitif terletak: bukan dalam pilihan teknologi, tetapi dalam menutup kesenjangan antara tata kelola terpusat (disukai oleh 43% retailer) dan struktur akuntabilitas yang menempatkan pemilik P&L dalam kontrol hasil AI.
Tindakan yang diperlukan
Realign kepemilikan strategi AI dari IT ke pemimpin unit bisnis yang bertanggung jawab atas pendapatan dan margin; lakukan audit kematangan pilot AI saat ini (sebagian besar tidak diskalakan); tetapkan metrik ROI eksplisit yang terikat pada use case strategis AI daripada investasi infrastruktur.